John Herdman dan Pertaruhan PSSI: Menyembuhkan Luka Gagal Piala Dunia, Menyalakan Kembali Api Garuda

Sedang Trending 14 jam yang lalu

TARBOL.ASIA – Gelora Bung Karno, Rabu (14/1/2026), menjadi saksi dimulainya era baru sepak bola Indonesia. PSSI secara resmi memperkenalkan John Herdman sebagai nakhoda anyar Timnas Indonesia. Namun, berbeda dengan euforia kedatangan pelatih-pelatih sebelumnya, atmosfer kali ini terasa lebih kontemplatif. Ada harapan yang melambung, namun tak bisa dipungkiri, ada luka menganga yang masih basah di hati para pendukung setia Garuda.

Kegagalan menyakitkan menembus putaran final Piala Dunia 2026—mimpi yang sempat terasa begitu dekat namun kandas di tikungan terakhir—meninggalkan trauma kolektif. Suporter Indonesia, yang dikenal paling fanatik di Asia, berada dalam titik nadir kepercayaan diri. Inilah medan perang pertama John Herdman: bukan di atas rumput hijau melawan Jepang atau Arab Saudi, melainkan memenangkan kembali hati publik dan memulihkan mentalitas pemain yang remuk.

Dalam sesi konferensi pers perdananya, Herdman tampak menyadari beban sejarah tersebut. Pelatih yang sukses membawa Timnas Putra dan Putri Kanada ke level dunia ini tidak menjanjikan keajaiban instan, melainkan sebuah transformasi kultural.

“Saya melihat mata para pemain, ada kekecewaan besar di sana (akibat kegagalan kualifikasi). Tugas saya dan staf bukan hanya melatih taktik, tapi menyembuhkan luka itu. Kami harus mengubah rasa sakit menjadi bahan bakar. Saya bukan pesulap, saya adalah pembangun (builder). Kita akan bangun ulang pondasi mental tim ini.” — John Herdman, Jakarta, 14 Januari 2026.

Pernyataan ini dinilai realistis oleh para pengamat sepak bola nasional. Herdman datang dengan membawa paket lengkap: taktik modern dan dukungan sports science melalui asistennya, Cesar Meylan. Namun, tantangan terbesarnya adalah skeptisisme. Publik masih terbayang-bayang era Shin Tae-yong yang memberikan progres signifikan namun belum berbuah trofi mayor atau tiket Piala Dunia.

Bagi fans, Herdman adalah pertaruhan. Di satu sisi, rekam jejaknya membawa Kanada dari tim antah berantah menjadi peserta Piala Dunia 2022 adalah validasi yang tak terbantahkan. Di sisi lain, kultur sepak bola Asia Tenggara yang unik—dengan drama di dalam dan luar lapangan—bisa menjadi kuburan bagi pelatih asing yang tidak adaptif.

Media sosial pasca-pengumuman resmi menunjukkan polarisasi. Tagar #TrustTheProcess kembali bergema, bersaing dengan suara-suara sumbang yang menuntut hasil instan di FIFA Series mendatang. Namun, satu hal yang pasti, PSSI telah menunjuk sosok yang berani bicara soal "mentalitas pemenang" di tengah situasi krisis.

Kini, waktu yang akan menjawab. Apakah "Sang Pembangun" dari Inggris ini mampu merajut kembali serpihan harapan fans Indonesia, ataukah ia hanya akan menjadi nama lain yang lewat dalam daftar panjang pelatih Timnas? Yang jelas, pekerjaan rumah Herdman sudah menumpuk, dan laga debutnya nanti akan menjadi ujian validasi pertama: apakah luka itu mulai sembuh, atau justru makin perih.

Artikel Terkait