Old Trafford Berpotensi “Biru”: Jika Enzo Maresca Jadi Manajer Manchester United

Sedang Trending 1 hari yang lalu

TARBOL.ASIA – Manchester United berada di fase reorganisasi besar menyusul pemecatan Ruben Amorim, dan salah satu nama yang mencuat sebagai calon manajer berikutnya adalah Enzo Maresca. Kedekatan figur Maresca dengan filosofi permainan yang pernah berkembang di Manchester City — di mana ia pernah menjadi bagian staf dan ikut serta meraih prestasi — menimbulkan perdebatan tentang apakah identitas tradisional United akan bergeser semakin dekat ke “rasa biru” jika ia terpilih.

Enzo Maresca bukan sosok sembarangan. Pelatih asal Italia ini memulai perjalanan kepelatihannya sebagai manajer Manchester City U-23, kemudian menjadi asisten Pep Guardiola di tim utama, dan meraih berbagai pengalaman taktis di level tertinggi. Ia juga pernah menjuarai UEFA Conference League dan FIFA Club World Cup bersama Chelsea sebelum mundur awal Januari 2026.

Latar belakang Maresca yang kuat di lingkungan City memicu diskusi serius di kalangan pendukung dan analis klub. Banyak pihak yang melihat rekam jejaknya di bawah bimbingan Guardiola sebagai nilai tambah, tetapi ada juga yang mengkhawatirkan identitas United yang selama ini dianggap berbeda dari gaya sepak bola City.

Manchester United sendiri memiliki dua figur penting yang sebelumnya juga terkait dengan City: Omar Berrada, CEO yang bergabung dari City setelah 13 tahun, dan Jason Wilcox, Direktur Sepak Bola yang menghabiskan banyak tahun di struktur pengembangan akademi City. Kedua posisi tersebut memberi gambaran bahwa struktur klub sudah mengalami pengaruh latar belakang City dalam beberapa peran kunci.

Pendukung yang khawatir mengenai potensi “rasa Man City” di Old Trafford menyebut bahwa identitas tradisional United — yang lebih menekankan intensitas, perjuangan langsung, dan permainan cepat khas Theatre of Dreams — mungkin akan tergerus jika struktur pelatih dan direksi banyak diisi figur dengan gaya dan filosofi serupa City.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh kritik dari legenda klub seperti Nicky Butt, yang secara terbuka menyatakan bahwa hiring manajer yang terlalu kental dengan DNA City adalah langkah yang meremehkan sejarah dan identitas United. Menurutnya, klub perlu manajer dengan visi dan kultur yang lebih selaras dengan tradisi Red Devils.

Namun di sisi lain, ada pula narasi yang mendukung prospek Maresca di Old Trafford. Pendukung pendekatan teknis melihat peluang bahwa ia bisa menggabungkan mentalitas kompetitif United dengan strategi modern yang ia pelajari di City, sehingga menghasilkan evolusi permainan yang mengoptimalkan kedalaman skuad dan potensi generasi pemain saat ini.

Beberapa analis internasional menilai bahwa Manchester United butuh kombinasi kualitas taktis dan kemampuan mengelola tekanan media serta ruang ganti yang kompleks. Enzo Maresca, dengan pengalaman di sepak bola Inggris dan Italia, dianggap memiliki kapasitas untuk itu — meski bukan nama “sexy” sebagai pelatih besar, kemampuannya merangkul taktik modern dan disiplin struktur tim menjadi kredit penting.

Spekulasi bahwa Maresca pernah mengadakan pembicaraan dengan City tentang kemungkinan menggantikan Pep Guardiola di masa depan turut menguatkan citra “link biru” apabila ia ditunjuk di United. Laporan menyebut ia pernah melakukan kontak dengan City sebelum dipecat oleh Chelsea, walaupun pihak Maresca telah membantah rumor tersebut.

Terlepas dari perekrutan pelatih baru, penunjukan sosok dari latar belakang City seperti Maresca juga menjadi indikator bahwa United sedang mencari transisi filosofi permainan yang lebih modern dan berbasis analisa taktik lanjutan, sering diasosiasikan dengan gaya yang dikembangkan oleh Guardiola dan stafnya selama dekade terakhir.

Namun, keputusan klub masih belum final. Laporan dari pakar transfer mencatat bahwa sumber lain menyatakan Manchester United sejauh ini tidak mengejar Maresca secara serius, dan fokus klub masih pada profil manajer lain yang lebih selaras dengan kebutuhan budaya klub.

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika ini mencerminkan dilema besar bagi klub besar yang berusaha menyeimbangkan warisan identitas dengan tuntutan inovasi modern. Apakah United akan memilih figur yang menjadi simbol perubahan taktis atau kembali pada figur yang mencerminkan tradisi khas mereka, menjadi salah satu keputusan terbesar di fase kompetitif berikutnya.

Artikel Terkait